Semua orang memilikinya, tapi tidak semua orang bisa mendapatkannya. Ia adalah sesuatu yang sangat mudah untuk dikatakan dan diceritakan tapi sangat sukar untuk diraih. Semua orang memilikinya tapi yang dimiliki oleh setiap orang akan sangat berbeda antara yang satu dengan yang lain. Karena ia akan sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal dari pribadi tersebut. Ia adalah "Himah Aliyah" atau dikenal familiar dengan nama "cita - cita yang tinggi".
Semua orang sudah barang tentu punya cita - cita akan tetapi tidak semua orang bisa mendapatkan apa yang menjadi cita - citanya. Semua orang tentu akan sangat gampang menceritakan apa yang menjadi cita - citanya, aka tetapi dalam praktek untuk mendapatkannya akan menjadi begitu sulit karena pelbagai tantangan. Semua orang punya cita - cita dan sudah pasti setiap orang punya cita - cita yang berbeda.
Dalam hal meraih cita - cita yang tinggi ini setidaknya dua hal yang kita perlukan. Pertama pengorbanan. Berbicara masalah cita - cita sudah tentu kita akan berbicara tentang pengorbanan. Apa yang sudah kita korbankan demi meraihnya. sebab tidak akan ada keberhasilan tanpa pengorbanan. Sejauh mana kita berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan ditentukan salah satunya oleh sberapa besar pengorbanan yang kita lakukan.
Seseorang yang bercita - cita ingin memiliki gelar akademis yang tinggi mau tidak mau akan mengorbankan banyak hal seperti tenaga, waktu dan biaya tentunya. Ia memerlukan tenaga yang besar untuk terus melanjutkan pendidikan dalam jangka waktu yang lama. Waktunya akan banyak tersita untuk studi yang dilakukannya. Dan biaya sudah tentu akan diperlukan cukup banyak. Tentunya porsi pengorbanan yang dilakukan akan berbeda - beda. Seseorang pada contoh diata (mendapatkan gelar) akan sangat mungkin melakukan pengorbanan dalam hal materi yang sedikit tetapi pengorbanan lainnya pasti akan meningkat. Tenaga dan waktu misalkan akan lebih besar dia korbankan agar medapatkan beasiswa untuk membiayai studinya.
Yang kedua adalah konsistensi. Berbicara masalah pengorbanan adalah berbicara tentang kesiapan untuk kehilangan sesuatu agar mendapatkan sesuatu. Sedangkan konsistensi adalah berbicara kesiapan untuk terus menerus kehilangan namun apa yang harusnya kita dapatkan akan ada di masa yang akan datang. Artinya konsistensi adalah energi yang kita perlukan untuk terus melakukan pengorbanan dalam variabel waktu tertentu.
Karena sejatinya cita - cita yang besar akan membuthkan rentang waktu yang panjang untuk dicapai. Tidak ada dan tidak akan pernah ada cita - cita yang besar diwujudkan dalam waktu yan singkat dan secara instan. Oleh karena itulah dalam mencapai cita - cita yang kita miliki maka kita harus konsisten dalam pengorbanan yang kita lakukan. Jangan menjadi lemah, terus berhenti dalam melangkah karena merasa lelah untuk terus berjalan meraih cita - cita. Ketika kita sudah bertekad untuk meraih gelar pendidikan yang tinggi, maka kita harus konsisten dengan aktivitas belajar yang kita lakukan. Karena untuk mendapatkannya dibutuhkan waktu yang cukup lama.
Wallahu a'lam bisshowab
Tuesday, 8 December 2015
Don't Speak
Diam itu emas. Ungkapan tersebut sudah sangat jamak di
kehidupan kita sehari – hari. Sehingga sangat wajar bila timbul persepsi
didalam masyarakat bahwa mereka yang irit dalam berbicara memiliki nilai lebih.
Sementara mereka yang terlalu banyak bicara cenderung mendapatkan persepsi
negatif. Tapi benarkah demikian kenyataannya bahwa orang yang sedikit dalam
bicara akan selalu lebih baik dibandingkan dengan orang yang terlalu banyak
bicara?
Persepsi tersebut tidak muncul begitu saja, tentunya
ada hal – hal yang melandasi munculnya pandangan tersebut. Karena logikanya
tidak akan pernah ada yang namanya asap kalo tidak ada api. Terlalu banyak
bicara merupakan sifat yang tidak baik. Sebab orang yang terlalu banyak bicara
cenderung bersifat egois,kurang bijak dalam penyampaiannya serta kurang
menunjukkan rasa empati. Sehingga rasa hormat lingkungan sekitar terhadap orang
– orang yang terlalu banyak bicara cenderung berkurang.
Selain itu, keburukkan lainnya dari orang – orang yang
terlalu banyak bicara adalah sulitnya untuk mendengarkan orang lain. Bahkan
tidak jarang mereka yang memiliki sifat ini berupaya untuk menguasai sebuah
forum dengan menggunakan cara – cara yang tidak etis. Misalnya dengan cara
mencemooh penyampaian orang lain. Hal tersebut bertujuan untuk menarik
perhatian peserta forum lainnya. Sudah tentu ada hati yang tersakiti dengan
cara – cara tersebut.
Terakhir, orang – orang yang banyak bicara sering
mendapatkan persepsi negatif dari masyarakat karena pada prinsip dasarnya
semakin banyak kita berbicara maka akan semakin banyak kesalahan dari apa yang
kita bicarakan. Orang yang sudah terlanjur punya sifat banyak bicara maka
sangat sering kita temui orang – orang tersebut tidak memikirkan dengan matang
apa yang ia bicarakan. Ucapan – ucapan yang keluar dari lisannya seakan tidak
melalui proses berfikir lagi apa tujuan dari hal yang dibicarakan atau paling
tidak apakah tidak ada hati yang terluka dengan kata – kata yang keluar dari
lisan ini.
Oleh karena hal – hal diatas tersebut maka saya
merupakan satu dari sekian banyak manusia yang memandang sifat banyak bicara
merupakan sifat yang buruk dan penting untuk kita hindari. Tetapi menghindarkan
diri dari sifat terlalu banyak bicara tidak lantas menjadikan kita orang yang
pendiam apalagi cenderung tertutup. Sebab antara pendiam dan tidak banyak
bicara bagi saya adalah dua hal yang berbeda.
Bagi saya pribadi pendiam merupakan sifat orang yang
tidak mampu mengungkapkan apa yang ingin ia sampaikan kepada orang lain dengan
berbagai faktor. Pendiam bagi saya adalah lebih karena kondisi internal dalam
dirinya yang sulit untuk membuat dia berkata – kata didepan orang lain.
Sementara tidak banyak bicara adalah kondisi dimana seseorang mampu untuk
berbicara dan menyampaikan pandangannya tetapi ia memilih untuk diam karena
berbagai pertimbangan. Dimana timbangan utama yang digunakan adalah timbangan
maslahat dan mudharat. Bagi mereka yang tidak banyak bicara, diam ataupun
berbicara merupakan tindakan yang mana setiap tindakan akan menimbulkan akibat
– akibat tersendiri. Sehingga mereka setidaknya telah memikirkan apa akibat
dari keluarnya kata – kata yang keular dari lisan mereka. Beda halnya dengan
mereka yang pendiam. Diamnya mereka bukanlah hasil dari pilihan tetapi murni
karena ketidak mampuan diri mereka sendiri. Padahal didalam hatinya menyimpang
hasrat yang sangat besar untuk berbicara menyampaikan apa yang mereka pikirkan
akan tetapi kemampuan jiwa mereka tidak memungkinkan untuk melakukan hal
tersebut.
Secara sederhana perbedaan antara mereka yang pendiam
dengan mereka yang tidak banyak bicara adalah sikap diamnya mereka yang tidak
terlalu banyak bicara muncul dari hasil pemikiran dari akibat yang dihasilakan
dari yang di ucapkan. Sementara mereka yang pendiam itu disebabkan masalah
didalam dirinya sendiri yang memaksa dia sulit untuk menyampaikan pendapat.
Pendiam sebagai sebuah sifat tidaklah bisa kita
masukkan kedalam kategori “diam itu emas”. Karena diamnya mereka yang memiliki
sifat pendiam muncul karena ketidakmampuan untuk bicara bukan karena hasil
pemikiran baik dan buruknya. Diam karena untuk menghindari masalah dan
keributan, diam untuk menghindarkan dari keburukkan – keburukkan serta mudharat
adalah hal yang baik dan perlu di apreisasi. Tetapi sebagai seorang manusia
maka seharusnya kita tidak hanya cukup dengan diam. Yang mesti kita lakukan
adalah memperbaiki apa yang salah, melakukan sesuatu agar tidak muncul masalah.
Perbaikan dan penghindaran atas sebuah masalah adalah implikasi dari sebuah
tindakan yang sangat sederhana bahkan mungkin sangat ringan yaitu berbicara.
Maka sudah selayaknya kita memperbaharui lagi ungkapan – ungkapan yang ada
dimasyarakat.
Tidak hanya sekedar berkutat pada “Diam itu emas”
tetapi kita harus sudah mulai melangkah pada jenjang yang lebih baik yaitu
bicara yang baik itu berlian”. Sudah saatnya kita menjadi pribadi yang tidak
banyak bicara bukan pribadi yang pendiam. Pribadi yang tidak banyak bicara
adalah mereka yang mampu memikirkan sebab – akibat dari perkataannya. Mereka
yang tidak banyak bicara adalah mereka yang sudah memiliki tujuan yang jelas
dari penyampaiannya sehingga apa yang dia bicarakan mengandung kebaikan –
kebaikan. Baik kebaikan untuk dirinya sendiri aupun bagi orang – orang yang
mendengarkan.
Dan salah satu perkataan yang baik itulah perkataan –
perkataan yang mengajak kita kepada kebaikan. Perkataan – perkataan yang
mengingatkan kita kepada Sang Pencipta.
Maka “ berkatalah yang baik atau diam”
Subscribe to:
Posts (Atom)