Monday, 15 April 2013

3 karakter perjuangan para sahabat



"Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar."
(QS Ali Imran :146)

Sudah tidak terbantahkan lagi bahwa generasi sahabat merupakan generasi yang terbaik dalam sejarah perjalan umat islam. Tidak ada lagi muncul generasi sebaik dan sehebat generasi sahabat. Baik dari sisi keta’atan serta kecintaan kepada Allah swt dan Rasulullah saw, perjuangan menegakkan agama Allah swt dan pengorbanan mereka dijalan dakwah. Kalaupun ada orang – orang hebat yang mungkin memiliki kualitas hampir sama dengan para sahabat tetapi kehadiran mereka tidak peernah terjadi dalam ruang dan waktu yang sama. Sudah menjadi sunatullah bahwa mereka yang ada dan berjuang bersama – sama dengan para nabi bukanlah orang yang sembarangan. Mereka adalah orang – orang pilihan yang memiliki kualifikasi khusus. Kualifikasi seperti yang tergambarkan pada surat ali imran ayat 146 diatas. 

Kehadiran para sahabat sebagai generasi terbaik dengan kualifikasi dan karakteristik unggul ini tidaklah hadir dengan serta merta. Proses panjang yang bernama “tarbiyah” yang telah mengubah mereka. Sentuhan tarbiyah islamiyah yang diberikan oleh Rasul kepada mereka telah mengatarkan mereka kepada derajat tertinggi manusia dimata Allah swt. Tarbiyah yang tidak hanya dilahirkan dari ceramah – ceramah tetapi tempaan ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah swt melalui orang – orang kafir mekkah. Setidaknya ada tiga karakter  yang dimiliki oleh para sahabat yang selalu setia berjuang bersama – sama Rasul dalam menegakkan kalimat Allah swt. Karakter – karakter inilah yang telah menjadikan setiap kesakitan,kesulitan dan kelelahan menjadi tidak berarti apa – apa. Karakter ini pulalah yang telah mengantarkan umat islam pada puncak kejayaan dengan perkembangan yang begitu pesat dari sisi jumlah pemeluknya serta kemengan – kemenangan yang gemilang dalam setiap peperangan yang dilakoni. 

T1. Totalitas dalam berjuang

 Ini adalah karakter pertama yang dimiliki oleh para sahabat dalam bergerak dan berjuang dengan baginda Rasulullah saw. Para sahabat menjalani setiap seruan dan perintah Rasul secara totalitas. Totalitas dalam artian berjuang dengan seluruh kemampuan yang dimiliki, berjuang sampai dengan batas maksimal dari diri mereka. Bukan perjuangan yang dilakukan dengan setengah – setengah atau ala kadarnya saja. Totalitas ini ditunjukkan dengan semangat yang tinggi dalam menyambut setiap seruan, tidak menunda – nunda dalam menjalankan setiap seruan yang datang, serta berkorban baik dengan harta dan jiwa. 

Perhatikan ungkapan salah seorang sahabat dalam menyabut seruan perang badar berikut ini “Kalau butir-butir kurma ini harus kutelan semua baru maju berperang… oh betapa jauh sungguh jarak antara aku dengan surga.” Dari ungkapan ini tergambar bagaimana sang sahabat tidak mau menunda dalam mengerjakan seruan dari Rasul, bahkan untuk sekedar menelan buah kurma yang barang tentu tidak akan menghabiskan waktu yang lama. Tergambar bagaimana totalitas sang sahabat dalam mengerjakan seruan Rasul. Menyambut dengan semangat yang begitu tinggi  serta tidak menunda dalam mengerjakan seruan tersebut. 

Atau contoh lain bagaimana secara total Abu Bakar meng-infaq kan seluruh hartanya untuk membiayai perang yang dilakukan oleh umat islam. Selain itu Abu Bakar juga turun langsung kemedan pertempuran dan berperang bersama para sahabat yang lain. Sudah berjihad secara harta dengan berinfaq seluruh harta, tidak menjadi Abu Bakar pribadi yang lalai dalam melaksanakan seruang  jihad yang diperintahkan Rasul. Karena sejatinya kita diminta untuk berjuang tidak hanya dengan harta tetapi juga dengan jiwa. “Dan berjihadlah kamu dengan harta dan jiwamu di jalan Allah” (At Taubah:41)

Totalitas dalam bergerak inilah yang akhirnya dalam setiap pergerakan dan perjuangan yang dilakukan oleh para sahabat membuahkan hasil yang manis. Setiap kerja yang dilakukan membuahkan hasil yang maksimal sesuai dengan kerasnya perjuangan dan besarnya pengorbanan yang dilakukan para sahabat. keberhasilan yang manis ini ditunjukkan dengan elegan oleh seorang pemuda parlente bernama Mush’ab bin Umair. Menerima seruan untuk berdakwah di madinah dan mempersiapkan madinah sebagai tempat hijrah umat islam dilakukan dengan baik oleh Mush’ab sehingga akhirnya Madinah mampu di futuhkan oleh pemuda yang luar biasa ini. 

Tidak ada perjuangan yang berujung dengan keberhasilan kecuali berjuang dengan totalitas. Total dalam berfikir,total dalam bergerak dan total dalam berkorban. Karena apa yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita usahakan. Dan surga begitu mahal harganya, sehingga hanya orang – orang yang berjuang / berjihad dengan total saja yang layak untuk mendapatkannya. 

2. Tidak memiliki wahn, sikap yang lemah dan mudah menyerah

Dari sahabat Tsauban r.hu berkata,“Telah bersabda Rasulullah saw, "Hampir saja bangsa-bangsa berkumpul menyerang kalian sebagaimana mereka berkumpul untuk menyantap makanan di nampan. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena sedikitnya jumlah kami pada saat itu?” Beliau menjawab, “Bahkan pada saat itu jumlah kalian banyak, tetapi kalian seperti buih, buih di atas lautan. Sungguh Allah benar-benar akan mencabut rasa takut pada hati musuh kalian dan sungguh Allah benar-benar akan menghujamkan pada hati kalian rasa wahn.” Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta kepada dunia dan takut mati”.

Hadist diatas menjelaskan tentang pengertian dari “wahn”, yaitu penyakit kecintaan pada dunia yang begitu besa sehingga menimbulkan ketakutan yang amat sangat dengan kematian. Dan proses tarbiyah yang dilakukan oleh Rasul telah mampu mengangkat penyakit tersebut dari dalam hati para sahabat. oleh karena itulah para sahabat telah mampu meletakkan dunia ini ditangan mereka tidak dimasukkan kedalam hati mereka,sehingga ketika dakwah dan perjuangan menegakkan kalimat Allah meminta pengorbanan harta dan jiwa. Dengan amat sangat mudah mereka melepaskan semuanya. 

Kita bisa melihat bagaimana seorang Abdurahman bin Auf yang meninggalkan seluruh hartanya di mekkah dan pergi hijrah ke madinah agar dapat berislam dengan kondisi yang lebih baik. Atau kisah – kisah lain bagaimana para sahabat yang tidak ragu sedikitpun dalam berjihad dijalan Allah swt. Setiap peperangan yang mereka lakukan tidak dianggap sebagai perjalanan menuju kematian, tetapi sebuah langkah nyata yang akan lebih mendekatkan mereka kepada surga Allah swt. 

Begitu bahayanya penyakit wahn ini, secara tegas Allah swt memperingati setiap kaum muslim untuk menghindarinya dan meletakkan rasa cinta yang paling tinggi hanya kepada Allah swt,Rasul dan berjihad dijalan Allah swt. 

Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS At Taubah :24)

Penyakit wahn yang ada dalam hati setiap muslim akan menimbulkan kelemahan dan skap yang mudah menyerah. Hal ini karena rasa takut yang besar untuk kehilangan dunia sehingga mereka menjadi lemah dan akan sangat mudah menyerah ketika dihantam masalah dalam proses perjuangan yang dilakukan. Orang – orang yang berpenyakit wahn, tidak akan mampu berjuang sampai batas kemampuan maksimal seorang muslim. Karena batas kemampuan maksimal seorang muslim dalam berjuang adalah ketika mereka menemui ajalnya. Dan seperti yang dijelaskan oleh Rasul dalam hadist diatas, orang – orang yang berpenyakit wahn dalam hati mereka akan sangat takut dengan namanya kematian. Ketakutan yang besar dengan  kematian akan mengikis kekuatan dalam pribadi seorang muslim sehingga menjadikannya pribadi yang lemah. Ketakutan yang besar dengan kematian akan menimbulkan ketakutan untuk terus bangkit dari keterpurukkan dan kegagalan. Rasa takut yang begitu besar dengan kematian akan menyebabkan sangat mudah menyerah karena takut untuk mencoba lagi dengan alasan takut untuk mengalami kegagalan yang kesekian kalinya. 

Oleh karena itulah, sangat penting bagi setiap muslim untuk selalu menjaga hatinya agar terbebas dari penyakit wahn. Dengan salah satu cara untuk menghindari penyakit ini adalah meletakkan dunia dan seisinya ditangan kita, jangan sekali – kali memasukkannya kedalam hati kita. Karena ketika kita meletakkan dunia ini diatas tangan akan sangat mudah melepaskannya ketika Allah swt sang pemilik yang sebenarnya mengambil kembali semua yang ditipkanNya kepada kita. Sedangkan jika kita menempatkan dunia dan seisinya didalam hati, maka akan begitu terasa berat untuk melepaskannya ketima diambil oleh Allah swt. 

      3. Obsesi yang bersandarkan kepada Allah swt

Karakter yang ketiga ini merupakan karakter yang melatarbelakangi munculnya dua karakter sebelumnya. Obsesi yang bersandarkan kepada Allah swt menjadi alasan perjuangan para sahabat, Allah ghayatuna atau Allah adalah tujuan kami itulah yang memenuhi kepala para sahabat dan menyesakki ruang – ruang didada para sahabat. perjuangan mereka tidak didsarkan atas keinginan meraih kekuasaan atau ambisi untuk mendapatkan harta yang banyak. Tetapi untuk meraih keridhoan Allah swt itulah yang menjadi obsesi dan menjadi alasan utama perjuangan mereka.

Obsesi ini tidak muncul dengan sendirinya, tetapi melalui poses pembentukkan yang panjang. Kita lihat dalam fase mekkah yang merupakan fase penanaman ideologi paa sahabat dipenuhi oleh ayat – ayat yang memerintahkan untuk bertauhid serta menceritakan tentang kampung akhirat,surga dan neraka. Inilah yang membuat semangat para sahabat tidak pernah surut, meski siksaan mereka terima. Ini juga yang membuat sahabat tidak pernah menyerah walau kesulitan yang amat sangat mereka rasakan pada saat pemboikotan di kota mekkah dan pengepungan kota madinah pada perang khandaq. Segala kesakitan dari siksaan tidak akan pernah terasa karena dalam benak mereka telah jelas tergambar kenikmatan di surga jika mereka bertahan. Semua penderitaan yang mereka alami akan dapat dlewati karena mereka tahu betapa indahnya surga yang ada diujung perjalanan mereka jika mereka mampu terus berjalan dijalan dakwah ini. 

Kita juga dapat melihat bagaimana Allah swt menjaga kelurusan obsesi dari para sahabat dalam berjihad dijalan Allah swt pada saat kemengan perang badar telah didapatkan. Yaitu ujian pertama ketika kemenangan yang gilang gemilang dihadirkan oleh Allah swt. Ujian pertama itu bernama “ghanimah” atau harta rampasan perang. Sebuah ujian yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh para sahabat sebelumnya. Dan sebuah ujian yang sempat mengganggu ukhuwah islamiyah diantara umat islam pada waktu itu. Tapi semua itu mampu diselesaikan dengan baik baik oleh para sahabat setelah turunnya surat Al Anfaal ayat 1

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: "Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman." (QS Al Anfaal : 1)

Ayat diatas tidak menjelaskan secara gamblang bagaimana mekanisme pembagian ghanimah, tetapi sebaliknya justru memerintahkan mereka untuk memberikan semuanya kepada Allah dan Rasul, serta perintah untuk bertakwa. Hal ini dapat dijelaskan karena ini adalah kemenangan pertama umat islam dalam peperangan. Dan tidak langsung diberitakan tentang cara pembagian ghanimah karena Allah swt ingin para sahabat memurnikan lagi niat dan obsesi mereka dalam berjihad. Hal ini sebagai pembuktian bahwa para sahabat berjihad bukanlah untuk mendapatkan kekuasaan apalagi mendapatkan harta. Karena semua harta rampasan perang itu milik Allah swt dan Rasul. Barulah setelah para sahabat memiliki kekokohan dalam sisi niat dan obsesi ayat tentang pembagian harta rampasan perang diturunkan oleh Allah swt. Inilah pembuktian yang nyata bahwa segala perjuangan,kontribusi dan jihad yang dilakukan oleh para sahabat semata – mata karena obsesi yang bersandarkan kepada Allah swt.

Wallahu a’lam bishawwab.

Sunday, 17 March 2013

3 Kekuatan Untuk Pemimpin



Kepemipinan adalah sebuah tanggung jawab besar dalam hidup seseorang. Seseorang yang diberikan tanggung jawab untuk memimpin berarti memikul sebuah beban tanggung jawab dipundaknya. Karena seorang pemimpin tidak lagi memikirkan dirinya sendiri. Yang ada dikepalanya bukanlah masalah – masalah dirinya sendiri. Yang dituju bukanlah kebaikan untuk dia pribadi. Seorang pemimpin harus juga memikirkan kemajuan kelompok yang dipimpinnya, harus mampu melakukan sesuatu untuk mengembangkan kelompok yang dipimpinnya, harus mampu memberikan kebaikan bagi kelompok dan orang – orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin tidak lagi berbicara tentang “saya” tapi telah berbicara dan berbuat untu “kita”. 

Oleh karena beban yang begitu berat yang diemban seorang pemimpin. Atas dasar peran yang begitu penting yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Maka, seorang pemimpin harus mampu meng-upgrade kemampuannya. Meningkatkan kualitas dirinya dan melejitkan potensi dirinya. Agar beban yang berat dan peranan yang sangat penting itu dapat dijalankan dengan sangat baik. Kemampuan, kualitas dan potensi itu adalah modal yang harus dimiliki oleh setiap orang yang akan menjadi pemimpin. Setidaknya ada tiga kekuatan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Yaitu, kekuatan Visi, kekuatan komunikasi dan kekuatan keteladanan. 

a.       Kekuatan Visi

Menurut istilahnya, visi berarti kemampuan untuk melihat pada inti persoalan. Visi juga dapat berarti juga pandangan atau wawasan yang jauh kedepan. Dalam konteks keorganisasian, visi dapat dimaksudkan sebagai tujuan dasar atau mimpi – mipi besar yang menjadi cita – cita utama dari organisasi atau kelompok tersebut. Tujuan ini merupakan alasan utama dari terbentuknya organisasi atau kelompok tersebut. Serta visi juga berupa hal – hal besar yang ingin diraih dalam rentang waktu tertentu. 

Pemimpin harus memiliki visi yang kuat dalam kepemimpinannya. Artinya dia mengetahui dengan jelas dalam masa kepemimpinannya organisasi atau kelompok yang dia pimpin akan di bawa kemana. Karena layaknya sebuah kapal, pemimpin merupakan nakhoda dari kapal tersebut. Pemimpinlah yang menjadi penentu arah atau jalan yang akan diambil oleh organisasi tersebut.Seorang pemimpin dalam perannya disebuah organisasi seorang pemimpin harus bisa mengenal jalan yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Karena itulah pemimpin harus memiliki visi yang kuat dalam memimpin.

Kekuatan visi dari seorang pemimpin akan menjaga konsistensi dari organisasi atau kemompok yang dipimpinnya. Kekuatan visi dari seorang pemimpin akan menjaga dan menjamin organisasi tetap pada “on the track” untuk capai tujuan meski sedang diterpa oleh masalah. Layaknya nakhoda yang tetap bisa mengendalikkan kapalnya pada saat badai menerjang kapal tersebut. 

Dan kekuatan dari visi ini akan dapat dimunculkan ketika seorang pemimpin telah mengetahui dan memahami dengan baik apa yang menjadi tujuan dasar dari kelompok atau organisasi tersebut. Selanjutnya setelah memahami tujuan, visi yang kuat dibangun dengan kemampuan menterjemahkan atau membuat langkah dan mengenali jalan dalam mencapai tujuan tersebut serta juga mengetahui masalah yang mungkin dapat menghambat proses pencapaian cita - cita. Langkah dan jalan inilah yang akan menjadi visi dari seorang pemimpin. Semakin baik dalam mengindetifikasi langkah dan jalan untuk mencapai cita – cita besar dari sebuah organisasi maka akan semakin kuat visi yang dimiliki.

b.      Kekuatan komunikasi

Komunikasi adalah Sebuah proses penyampaian pikiran atau informasi dari seseorang kepada orang lain melalui suatu cara tertentu sehingga orang lain tersebut mengerti betul apa yang dimaksud oleh penyampai pikiran-pikiran atau informasi”.(Komaruddin, 1994;Schermerhorn, Hunt & Osborn, 1994; Koontz & Weihrich, 1988). Dan komunikasi dapat efektif apabila pesan diterima dan dimengerti sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan, pesan ditindaklanjuti dengan sebuah perbuatan oleh penerima pesan dan tidak ada hambatan untuk hal itu (Hardjana, 2003).
 
Komunikasi merupakan hal penting dalam sebuah organisasi. Karena organisasi merupakan kumpulan dari banyak orang dan komunikasi disini memiliki peran penting dalam organisasi. Salah satunya adalah menjaga soliditas organisasi. Banyak contoh kasus sebuah organisasi atau kelompok tidak berjalan dengan baik abhkan mengalami perpecahan karena permasalahan komunikasi. Baik antara sesama unsur pimpinan organisasi, antara pimpianan dan anggota atau anatara sesama anggota. Oleh karena itulah dalam membangun sebuah organisasi dan menjalankan organsisasi, komunikasi menjadai hal yang sangat penting untuk dijaga oleh seluruh unsur dalam organisasi.

Kekuatan komunikasi sangat mutlak harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Karena pemimpin adalah orang yang akan memberikan arahan dan petunjuk untuk setiap gerakan dan kerja yang akan dilakukan oleh setiap anggotanya. Kekuatan komunikasi dari seorang pemimpin menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan oleh pemimpin terhadap anggota – anggotanya dan apa yang dilakukan oleh anggota – anggotanya setelah mendapatkan arahan dari sang pemimpin. Sehingga terjadi harmonisasi gerak yang baik antara keinginan dari pemimpin dan kerja yang dilakukan oleh anggota.

Ada beberapa hal yang harus mampu dikomunikasikan dengan baik oleh seorang pemimpin kepada anggota – anggotanya. Kekuatan komunikasi dari seorang pemimpin bertujuan untuk menunjukkan jalan dan langkah yang akan diambil oleh organisasi dalam mencapai tujuan dan dalam menghadapi setiap permasalahan. Pertama pemimpin harus bisa mengkomunikasikan apa yang menjadikan visinya. Dan diharapkan para anggota mengetahui apa yang akan mereka tuju bersama sang pemimpin. Sehingga jika di pertengahan jalan organisasi mengalami masalah dan terlihat organisasi sudah mulai “off the track” maka para anggota dalam hal ini bisa memberikan pandangan dan mengingatkan untuk mengembalikkan organisasi pada jalur yang tepat.

Yang kedua adalah hal yang harus mampu dikomunikasikan dengan baik oleh pemimpin dalam sebuah organisasi adalah kondisi dan permasalahan – permasalahan yang sedang dan akan dihadapi oleh organisasi atau kelompok dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Komunikasi yang baik dari pemimpin terhadap kondisi dan masalah yang dihadapi akan menghasilkan kesadaran dari setiap anggota akan peranan dan tugas yang dapat dilakukannya dalam menghadapi setiap masalah yang ada. Tapi tentunya tidak semua masalah harus disampaikan kepada anggota. Cukup hal – hal yang benar – benar berkaitan dengan mereka. Oleh karena itulah komunikasi akan hal ini harus dapat dilakukan dengan baik oleh setiap pemimpin. Kekuatan komunikasi seorang pemimpin juga harus dimiliki dalam hal komunikasi kepada pihak – pihak yang ada diluar organisasi tersebut. Komunikasi ke keternal organisasi akan menguatkan dan menjadi proses marketisasi tersendiri terhadap organisasi atau kelompok tersebut.

c.       Kekuatan keteladanan

Dan kekuatan ketiga yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kekuatan keteladanan. Artinya seorang pemimpin harus memberikan keteladanan guna memimpin para anggotanya dalam menempuh “jalan” untuk mencapai tujuan atau visi yang telah dibuat. keteladanan merupakan salah satu tugas yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin, seperti istilah yang diungkapkan oleh Ki Hajar dewantara “Ing Ngarso sung tulada” yang artinya didepan kita menjadi teladan. 

Keteladanan dari pemimpin adalah “motor” penggerak seluruh elemen organisasi yang paling efektif. Karena konsepnya dalam sebuah keteladanan akan lebih bermakna ketimbang seribu kata – kata. Seorang pemimpin yang mampu memberikan keteladanan akan lebih dicintai, lebih dihormati dan akan lebih diikuti ketimbang pemimpin – pemimpin yang hanya bisa berkata – kata dan beretorika. Keteladanan merupakan salah satu bentuk komunikasi yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin kepada anggota – anggotanya. 

Kita telah melihat bagaimana kepemimpinan Rasulullah saw yang dipenuhi oleh keteladanan. Beliau tidak hanya mengetahui apa masalah yang sedang dihadapi, tetapi juga Rasul memahami bagaimana masalah itu diselesaikan. Artinya dalam proses kepemimpinan yang dilakukan, Rasul tidak hanya hadir dalam alam kata – kata retorika dalam menghadapi sebuah masalah tetapi juga Rasul dalam taraf amal dan tindakan untuk menyelesaikan masalah – masalah yang dialami oleh umat islam saat itu. Contohnya dalam perang khandaq bagaimana Rasul ikut turut ambil bagaian dalam proses pembuatan parit. 

Kekuatan keteladanan dari seorang pemimpin akan mampu menggerakan seluruh elemen organisasi untuk bekerja secara bersama – sama dalam mencapai tujuan dan visi yang telah ditetapkan. Keteladanan akan “menghangatkan” hubungan antara pemimpin dan anggota tanpa mengurangi rasa hormat dari dari para anggota kepada pemimpin. Bahkan keteladanan akan lebih meningkatkan rasa hormat kepada pemimpin yang mampu memberikan keteladanan. 

Wallahu a’lam.

Monday, 11 March 2013

Membangun Integritas Pribadi



Islam merupakan sebuah kebaikan, intisari dari kebaikan dan hal yang paling baik yang pernah ada. Sedangkan dakwah merupakan proses menyapaikan kebaikan itu sendiri kepada seluruh manusia. Dan manusia sebagai objek kebaikan tersebut memiliki fitrah kecondongan kepada hal – hal yang baik. Manusia secara alamiahnya akan lebih memilih hal – hal yang baik untuk dirinya. Oleh karena itulah seharusnya manusia mau menerima apa yang dibawa oleh para penyeru dakwah,apa yang disampaikan oleh aktivis dakwah. Yaitu nilai – nilai kebaikan yang terkandung didalam islam. 

Tetapi kenyataannya ternyata tidak semua manusia mau menerima dakwah islam. Bahkan lebih dari itu ada orang – orang yang berbalik membenci dakwah ini. Pertanyaannya apakah dakwah islam yang menyebabkan penolokkan? Atau kah nilai – nilai islam itu sendiri yang membuat mereka benci? Sangat tidak logis menyalahkan dakwah karena dakwah adalah proses kerja untuk menuju kebaikan. Apalagi jika kita menunjuk nilai – nilai islam yang menjadi muatan dakwah, karena ia turun langsung dari Sang pemiliki kebaikan diseluruh alam semesta. Oleh karena itu yang paling logis untuk dikoreksi ketika terjadi penolakkan terhadap dakwah dan islam adalah pelaku dakwah atau subjek dakwah yang lebih dikenal dengan aktivis dakwah itu sendiri.

Penolakkan dan rasa benci yang muncul terhadap dakwah itu sendiri seringkali disebabkan karena si aktivis dakwah tersebut. Baik karena kesalahan dalam proses yang dijalankan ataupun faktor internal pribadi dari saktivis dakwah tersebut. Salah satu kesalahan yang dilakukan oleh aktivis dakwah adalah gagal dalam membangun integritas pribadi ditengah – tengah objek dakwahnya. Kegagalan membangun citra dan nilai – nilai positif yang tampak dan terasa ditengah – tengah objek dakwah kita. Sehingga dakwah yang disampaikan, nilai – nilai islam yang disyiarkan terasa “hambar” tanpa ruh.

Membangun integritas pribadi berarti mampu membangun citra dan nilai – nilai positif yang ada dalam dirinya. Menampakkan hal – hal positif tersebut sehingga kebaikan – kebaikan yang ada dalam diri kita mampu dirasakannya kebermanfaatan ditengah – tengah objek dakwah.  Atau dengan kata lain integritas pribadi seorang aktivis dakwah adalah sebuah bentuk keteladanan yang diberikan ditengah – tengah objek dakwah. Disinilah sebagian aktis dakwah tidak mampu melakukannya dengan baik. Sehingga kebaikan yang ada didalam dirinya hanya terasa untuk pribadi aktivis dakwah tersebut. 

Muhammad saw sebelum menjadi Rasu,sebelum menyapaikan kalimat tauhi dan sebelum mengajak kepada islam telah mampu dan berhasil membangun integritas pribadi serta keteladanan ditengah – tengah penduduk quraisy dikota mekkah. Tidak ada penduduk mekkah yang tidak mengenal nama Muhammad bin Abdullah. Dan tidak ada yang diketahui oleh masyarakat mekkah dari seorang Muhammad kecuali hal – hal baik yang ada dalam diri pemuda tersebut. Puncaknya Muhammad saw diberikan gelar Al Amin ( yang paling dipecaya) karena sikap dan kepribadian beliau yang begitu mempesona orang – orang mekkah.

Bisa kita bayangkan dengan begitu luar biasanya integritas pribadi yang telah dibangun oleh Rasul. Begitu baiknya citra Rasul dimata masyarakat mekkah. Bahkan tidak ada satupun orang dikota mekkah yang tidak mempercayai kata – kata yang dikeluarkan oleh Rasul. Dakwah yang dilakukan oleh Rasul masih sangat berat. Sepuluh tahun dikota mekkah,Rasul pernah merasa begitu sedih karena sedikitnya jumlah orang yang bergabung dengan islam. Pertanyaan sekarang bagaimana dengan kita? Wajar saja jika dakwah yang kita lakukan belum menghasilkan apa – apa, belum menyentuh siapa – siapa. Karena diri kita ini pun belum pantas mendapatkannya.

Setidaknya ada tiga hal yang bisa kita lakukan dalam membangun integritas pribadi. Yang saya menyebutnya “3 kesholehan”. Yang jika seorang aktivis memiliki tiga kesholehan ini maka ia telah berhasil membangun integritas pribadi yang baik ditengah masyarakat. Dan ia telah mampu menjadikan dirinya sebagai teladan ditengah – tengah objek dakwahnya.

Pertama, kesholehan ibadah. Artinya seorang aktivis dakwah harus baik dari sisi ibadah. Baik dari sisi kuantitas (jumlah) ibadah yang dilakukan dan kualitas ibadahnya. Termasuk juga dalam kesholehan ibadah ini adalah apa yang disampaiak imam syahid Hasan Al Banna dalam muwashaffat yaitu “shahihul Ibadah”. Atau dengan kata lain ibadah yang benar. Benar dalam tata cara pelaksanaan yang terbebas dari segal bid’ah. Dan juga benar dari sisi niat yang hanya tertuju kepada Allah swt. Membangun kesholehan ibadah merupakan hal penting, sebab intisari dari dakwah adalah mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah swt. Sehingga dalam prinsipnya seorang aktivis harus mampu melakukan ibadah sebelum negajak orang lain. Hal ini diperlukan agar terhindar dari cap negatif dari objek dakwah dan azab Allah swt. 

Yang kedua, adalah kesholehan secara sosial. Artinya seorang aktivis dakwah harus baik secara sosial. Mampu bersosialisasi ditengah – tengah objek dakwahnya serta mampu berkomunikasi dengan baik kepada seluruh objek dakwahnya. Termasuk juga dalam kesholehan pribadi adalah memiliki simpati dan empati kepada seluruh objek dakwah. Kedua hal itulah yang diperlukan untuk membangun dan menciptakan hubungan sosial yang baik dengan seluruh objek dakwah. 

Sebagai yang pernah dicontohkan oleh Rasul adalah bagaimana rasul memiliki rasa empati yang begitu besar dengan berkunjung kerumah orang yang sering menghina dan meludahinya ketika orang tersebut jatuh sakit. Dan jelas dampak dari empati yang diberikan Rasul adalah keberislaman orang tersebut. Kesholehan pribadi ini bertujuan untuk mengkomunikasikan dan mensyiarkan kesholehan ibadah seorang aktivis dakwah kepada seluruh objek dakwahnya. Oleh karena itulah, setelah seorang aktivis dakwah mampu membangun kesholahan dalam hal ibadah yang harus dilakukannya adalah membangun kesholehan sosial. Atau dengan kata lain bagaimana menjadi pribadi yang menyenangkan dan diterima ditengah – tengah objek dakwah.

Yang terakhir adalah kesholehan politik atau kesholehan kepemimpinan. Maksudnya adalah seorang aktivis dakwah harus memiliki kecakapan atau kemampuan dalam hal memimpin. Memimpin dalam artian bagaimana kehadiran seorang aktivis dakwah ditengah – tengah objek dakwahnya harus memberikan manfaat yang besar. Kehadirannya harus mampu memimpin rekan – rekannya menuju perbaikan diri. Jangan sampai kehadiran seorang aktivis dakwah ditengah objek dakwahnya tidak memberikan dampak apa – apa. Atau dengan kata lain hadir atau tidaknya dia dalam komunitas tersebut sama saja. Maka jika itu yang terjadi maka kita gagal memiliki kesholehan dalam hal kepemimpinan. 

Kesholehan dalam hal kepemimpinan juga dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang baik seorang aktivis dakwah untuk menjadi problem solver untuk setiap masalah yang dialami oleh orang – orang yang menjadi objek dakwahnya. Kesholehan kepemimpinan bisa diartikan sebagai kebijaksanaan dalam memberikan masukkan dan solusi atas setiap permasalahan yang terjadi. Hal yang sama yang pernah dilakukan oleh Rasul ketika Rasul memberikan solusi yang brilian untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi antara kabilah yang ada dimekkah dalam masalah peletakkan hajar aswad. 

Tiga hal itulah yang harus dimiliki oleh setiap aktivis dakwah untuk membangun integritas pribadi dan memberikan keteladanan ditengah – tengah objek dakwah. Dan ketiga hal tersebut akan mampu kita dapatkan dengan menjalani proses tarbiyah dengan baik.

Wallahu a’lam bisshawwab.