Thursday, 19 July 2012

menjadi pribadi menawan dengan bersabar


Hidup memang tidak selalu sesuai dengan apa yang diinginkan. Tidak semua yang kita rencanakan dapat terjadi atau berjalan dengan baik. Akan selalu ada kendala dan masalah dalam setiap jalan kehidupan manusia. Kendala dan masalah tersebut merupakan ujian dari Allah swt untuk setiap hamba – hambaNya. Ketidak sesuaian antara apa yang diharapkan dengan hasil yang didapatkan bisa jadi merupakan cara Allah swt untuk memberikan yang lebih baik dari yang kita harapkan dihadapan Allah swt atau cara Allah menjaga kita dari hal – hal yang buruk dimata Allah swt.
diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS Al Baqarah :216)
Untuk mengahadapi semua itu diperlukan kesabaran. Sabar menghadapi masalah yang datang, sabar menghadapi hasil yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan karena kita tahu Allah  swt akan memberikan hasil yang jauh lebih baik lagi kedepannya. Karena kesabaran merupakan salah satu cara untuk mendapatkan pertolongan dari Allah swt :
Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al baqarah :153)
Seseorang yang pribadinya dihiasi dengan kesabaran akan menjadi pribadi yang menawan. Seseorang yang menghiasi hari – harinya dengan kesabaran maka ia akan menjadi orang yang kokoh dan tegar dalam menjalani hidup. Seseorang yanng hari – harinya penuh dengan kesabaran maka ia akan menjadi prang yang dekat dengan Allah swt. Sebaliknya orang – orang yang tidak memiliki kesabaran dalam diinya, orang – orang yang dari tutur katanya,tidak mencerminkan kesabaran dalam perbuatannya akan kehilangan pesona keindahan dalam dirinya.
Setidaknya seseorang harus memiliki kesabaran didalam 3 (tiga) hal. Yaitu, sabar dalam meluuskan niat, sabar dalam menjalankan proses dan yang terakhir sabar dalam menghadapi hasil yang didapatkan. Dengan memiliki kesabaran seseorang akan dapat menjalani kehidupan dengan tenang. Karena dia akan merasa dekat dengan Allah swt, karena ia yakin bahwa Allah wt akan memberikan yang terbaik baginya setelah ia menjalani semua usaha dengan semaksimal mungkin. Dengan kesabaran sesorang merasa yakin bahwa apapun hasil yang dia dapatkan merupakan yang terbaik baginya dimata Allah swt.
Yang pertama, sabar dalam meluruskan niat diperlukan karena Allah swt hanya menerima amal atau perbuatan yang disertai dengan niat yang lurus karena Allah swt. Karena sesungguhnya semua amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan niat memiliki posisi penting dalam penerimaan sebuah amal yang dilakukan oleh manusia. Sebuah pekerjaan yang baik tetapi diawali dengan niat yang salah maka pekerjaannya tersebut akan sia – sia. Jadi, sebelum melakukan sesuatu perhatikan niat kita. Luruskanlah niat disetiap awal kita hendak melakukan sesuatu. Niat yang lurus adalah niat yang ditujukan kepada Allah swt.
Ingin sekolah atau kuliah luruskan niat, untuk apa kita bersekolah atau kuliah? Kuliah untuk mencari keridhoan Allah swt. Kuliah agar mendapatkan ilmu yang dapat digunakan untuk mencari keridhoah Allah swt dengan cara menggunakan ilmu yang didapatkan untuk kebaikan dan memberikan manfaat bagi orang banyak.
Ingin membeli kendaraan bermotor yang mahal dan mewah maka kita juga harus meluruskan niat untuk apa kita membeli kendaraan tersebut. Jangan sampai kita membeli sebuah kendaraan hanya untuk pamer dengan oang – orang, jangan sampai kita membeli kendaraan untuk sesuatu yang sia – sia bahkan untuk sesuatu yang membawa keburukkan.
Ketika ingin menjadi seorang pejabat, tanyakan niat kita untuk apa menjadi pejabat. Untuk apa kita mengejar sebuah posisi atau jabatan. Kalau niatnya sekedar ingin mendapatkan kekuasaan, kalau niat ingin mendapatkan harta, kalau niat menjadi pejabat hanya ingin dipuji dan hanya ingin dihormati oleh orang – orang. Sebaiknya jangan menjadi pejabat, karena kalaupun berhasil menjadi pejabat semuanya tidak akan barokah. Harta, kekuasaan, kehormatan dan lain – lain tidak akan mendapatkan kebrkahan karena diawali dengan niat yang tidak baik.
Bersabar dalam menjaga kelurusan niat dalam melakukan pekerjaan akan menentukkn bagaimana proses dalam menjalani pekerjaan tersebut dan juga pastinya hasil yang didapatkan. Sebuah pekerjaan yang diwalai dengan niat yang salah tidak akan mungkin dijalani dengan sebuah proses yang benar dan hasilnya pun tidak akan baik dimata Allah swt, tidak akan membawa hasil yang berkah. Orang yang mengawali pekerjaannya dengan niat yang lurus saja nelum tentu dapat terhindar dari cara – cara yang buruk dalam melakukan pekerjaannya apalagi orang – orang yang mengawali pekerjaan dengan niat yang salah tentunya akan amat sangat sulit mendapati orang tersebut melakukan dengan cara – cara yang baik dan benar.
Belajar atau sekolah misalnya, jika diawali dengan niat yang salah bukan karena Allah wt, maka dalam prosesnya pun akan ternoda dengan perbuatan yang tidak baik. Dalam prosesnya akan diwarnai dengan tindakan – tindakan curang seprti mencontek, kerja sama dalam ujian, membeli bocoran soal dan lain – lain. Sehingga hasil yang didapatkan, nilai yang keluar dan gelar yang diraih tidak berkah dimata Allah swt. Boleh jadi kita memiliki gelar akademik setelah kuliah bertahun – tahun, namun ternayata dihadapan Allah gelar tersebut tidak bernilai apa – apa karena diraih dengan niat dan proses yang salah. Dan masih banyak contoh lainnya yang dapat dikemukakan mengenai dampak dari lurusnya niat terhadap proses yang dijalani dan hasil yang didapatkan.
Selanjutnya setelah kita bersabar dalam meluruskan niat, maka yang diperlukan dan harus dilakukan oleh seorang muslim adalah bersabar dalam menjalankan proses dan usaha. Sabar dalam usaha adalah kita bersabar menghadapi setiap “kerikil” masalah dan kita bersabar dalam melewati “tebing” yang muncul dalam perjalanan hidup kita. Bersabar dalam berproses berarti sabar dalam menantikan akhir dari sebuah proses yang panjang karena kita yakin bahwa Allah swt akan memberikan sesuatu diwaktu yang tepat.
Bersabar dalam berproses menghindari kita dari sifat tergesa – gesa dalam mendapatkan hasil. Banyak orang yang tergesa – gesa ingin menikmati hasil dari setiap proses yang dijalaninya, padahal belum tentu apa yang kita anggap baik adalah hal yang baik dimata Allah swt.
Padahal kalau kita sadari sebenarnya menikmati hasil sangatlah singkat waktunya, yang lama adalah proses. Kita tidak bisa menikmati hasil dalam waktu lama karena hasil hanya dapat dinikmati dalam waktu singkat, jauh lebih singkat dibandingkan proses. Ibu hamil contohnya, melahirkannya tidak akan selama proses kehamilan. Dan ibu – ibu biasanya akan sangat menikmati poses kehamilan itu sendiri. Seandainya seoang ibu yang sedang hamil tidak memiliki kesabaran dalam proses kehamilannya, tergesa – gesa ingin segera melahirkan akan sangat fatal dampaknya.
Kesabaran dalam menjalani proses menunjukkan kualitas pribadi seorang muslim dalam menjalani ujian dari Allah swt. Setiap kebaikan yang kita lakukan pasti akan menimbulkan hal – hal buruk disekelilinginya yang dapat merusak perbuatan baik yang kta lakukan. Logikanya jika kita menanam padi, pastinya akan tumbuh rumput – rumpur liar disekitarnya. Begitu juga dalam menjalani proses untuk mencapai sesuatu, pasti akan timbul masalah  yang bisa merusak hasil yang kita dapat jika kita tidak memiliki kesabar4an dalam menghadapinya.
Masalah dan ujian dalam proses kehidupan adalah sesuatu hal yang pasti dihadapi. Karena ujian dan masalah merupakan sebuah proses pembuktian keimanan seorang muslim. Karena keimanan tidak hanya diyakini dalam hati dan diucapkan dengan lisan tetapi juga terejawantahkan dalam amal perbuatan. Dan orang – orang yang sabar dan berhasil menjalani ujian dengan baik itulah orang – orang yang teruji keimanannya.
Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al ankabut : 1 – 3)
Ujian dalam menjalani proses itu adalah sebuah keniscayaan. Bukan bagaimana agar tidak mendapatkan masalah dalam menjalani proses tetapi bagaimana bisa menikmati proses yang dijalani dengan kesabaran sehingga hasil yang didapatkan akan maksimal, minimal keberkahan dari Allah swt telah kita dapatkan dengan kesabaran kita.
Yang terakhir, ketika kita telah mampu menjaga kelurusan niat, bersabar dalam menjalani proses, maka seorang muslim harus memiliki dan harus mampu bersabar dalam menghadapi hasil yang didapatkan.
Setiap orang pasti ingin mendapatkan hasil yang terbaik. Namun sayangnya banyak orang yang mengukur hasil terbaik menurut prasangka dan tolak ukur mereka. Sehingga muncul anggapan dalam benak mereka bahwa hasil yang terbaik adalah minimal yang sesuai dengan mereka harapkan dan sesuai dengan yang direncanakan. Kurang dari itu merupakan hasil yang tidak baik.
Padahal kalo kita sadari bahwasanya pandangan manusia itu sangatlah sempit, terlebih untuk memandang apakah sesuatu itu baik baginya atau merupakan hal yang buruk baginya. Sehingga untuk ukuran apakah sebuah hasil itu baik atau buruk maka yang kita gunakan adalah penilaian dari Allah swt, karena bashirah atau pandangan Allah swt jauh lebih luas dan pasti kebenarannya dibandingkan dengan manusia.
diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS Al Baqarah :216)
seorang pelajar atau mahasiswa yang telah belajar dengan baik ketika hendak menghadapi ujian dan ketika ujian dilaksanakan ia menjalaninya dengan jujur tanpa ternodai sedikitpun kecurangan. Namun, ternyata nilai yang didapatkan kecil bahkan paling kecil diantara teman – teman lainnya. Seorang muslim yang memiliki kesabaran dalam menyikapi hasil yang didapatkan maka akan timbul dua sikap dalam dirinya.
Pertama melakukan evaluasi terhadap dirinya. Seorang yang memiliki kesabaran dalam menyikapi hasil akan terhindar dari sikap menyalahkan orang lain, ia akan selalu menginstrospeksi dirinya sendiri tidak menyalahkan orang lain. Yang kedua orang yang mampu bersabar dalam menyikapi hasil tercermin dalam pikiran positifnya terhadap Allah swt. Ia yakin bahwa ketika ia telah melakukan segalanya dengan baik, maka Allah swt akan memberikan hasil yang terbaik. Tidak hanya terbaik dimata manusia tapi juga terbaik dimata Allah. Dan terbaik dimata Allah swt itulah yang seharusnya dicaro oleh umat islam.
Semoga kita menjadi pribadi yang dipenuhi dengan kesabaran sehingga mampu membuat kita menjadi pribadi yang menawan, menjadi pribadi yang mempesona dan selalu memiliki sikap optimis dan key6akinan dalam mnejalani kehidupan dan segala ujian dari Allah swt yang ada dalam kehidupan ini. Semoga kita semua menjadi pribadi – pribadi yang memiliki kesabaran sehingga keluarga kita, lingkungan kita dan negara kita menjadi lebih baik lagi.

Thursday, 12 July 2012

Ramadhan “Bengkel” Besar Perbaikan Diri


Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
(QS Al Baqarah 183 – 186)
Ramadhan adalah sebuah momentum besar bagi umat islam dimana dalam sejarahnya dibulan ini lah untuk pertama kalinya Al Qur’an sebagai petunjuk bagi umat islam diturunkan. Dan dibulan ini pula seluruh orang yang beriman diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa kecuali orang – oang yang mendapatkan keringanan seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 185.
Setidaknya ada 3 hal yang haus dicapai oleh seorang muslim dalam menjalankan ibadah puasanya selama bulan ramadhan seperti yang tergambarkan didalam surat al baqarah ayat 183 s/d 186.yaitu agar menjadi orang – orang yang betakwa, menjadi orang – orang yang bersyukur dan  menjadi orang – orang yang berada didalam kebenaran. Itulah tiga tujuan yang harus dicapai oleh orang – orang yang beriman dalam menjalankan puasanya.
Ramadhan adalah salah satu proses dari perbaikan diri seorang muslim bukan puncak ibadah yang dilakukan orang muslim. Sukses atau tidaknya seorang muslim menjalankan ibadah puasa dibulan ramadhan tidak hanya diukur hanya dengan apakah mampu berpuasa sebulan penuh, berapa kali khatam membaca al qur’an atau menjalankan ibadah shalat malam dengan rutin. Tetapi lebih dari itu, seorang muslim yang menjalani ibadah puasa harus mampu mendapatkan ketiga hal diatas yaitu menjadi orang yang bertakwa, menjadi orang yang bersyukur dan menjadi orang yang berada dijalan kebenaran.
Hasil dari seorang yang berpuasa akan terlihat di sebelas bulan selain bulan ramadhan. Bagaimana seorang manusia menjalani kehidupannya dibulan ramadhan, tetapi juga sejauh mana ramadhan nantinya mampu merubah kehidupannya setelah ramadhan kearah yang lebih baik lagi. Karena kita mungkin tidak hidup hanya dibulan ramadhan. Oleh karena itu sangat penting bagi kita tetap menjaga keimanan dan ketakwaan diluar ramadhan.
Ramadhan adalah sarana pelatihan dan perbaikan bagi diri kita, maka sudh seharusnya ada sebuah peningkatan dari kualitas diri seorang muslim yang menjalankan ibadah puasanya. Setelah ia keluar dari “training center” bernama “ramadhan” selama sebulan penuh, sudah seharusnya ia menunjukkan sebuah peningkatan kualitas diri dari sebelum ia masuk dan menjalankan ibadah puasa dibulan ramadhan.
Peningkatan kualitas diri ini akan kita raih bilamana kita benar – benar serius dalam menjalani ibadah puasa ini. Bersungguh – sungguh dalam membiasakan diri melakukan ibadah – ibadah harian. Karena ketika kita telah mampu membiasakan diri dengan amalan harian dibulan ramadhan maka tidak akan sulit untuk membiasakannya dibulan – bulan laindiluar ramadhan.
Disnilah kita benar – benar dilatih untuk membiasakan diri dalam beribadah kepada Allah swt. Tidak hanya dilatih untuk terbiasa beribadah kepada Allah swt. Dibulan ini juga kita dilatih untuk berdisiplin diri dalam menjalankan segala aktivitas kita termasuk aktivitas ibadah kita. Kita dilatih untuk disiplin waktu makan kita, dan sangat penting bagi kita untuk menerapkan kedisiplinan ini diluar bulan ramadhan.
Inilah bulah dimana kita di tarbiyah dengan ibadah – ibadah kita, kita dilatih agar mampu menjadi pribadi yang disiplin dan semua itu hanya akan mampu kita jalani dan “menular”kan semangat dibulan ramadhan dengan kesungguhan dan keikhlasan didalam diri. Kita mesti bersungguh – sungguh agar kebaikan – kebaikan yang ada dibulan ramadhan mampu kita lakukan diluar bulan ramadhan. Itulah kemenangan yang diraih oleh seorang muslim.
Menjadi orang yang bertakwa, menjadi orang yang bersyukur dan menjadi orang yang berada didalam kebenaran itu tidak hanya selama orang menjalankan ibadah puasa dibulan ramadhan. Tetapi ketiga hal itumerupakan hasil yang terlihat diluar bulan ramadhan setalah orang – orang yang beriman menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Maka sekali lagi disampaikan berhasil atau tidaknya seseorang menjalani ibadah puasa bukan hanya dilihat dari selama ia menjalani ibadah puasa tapi juga kepada sejauh mana ibadah – ibadah yang dilakukannya dibulan ramadhan mampu merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik lagi yang memenuhi ketiga kriteria tersebtu.
Oleh karena itulah mari kita jadikan  ramadhan sebagai “bengkel” untuk perbaikan diri kita sehingga selepas bulan ramadhan kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan mampu mempertahankan kualitas dan kuantitas ibadah kita seperti ketika kita menjalankan ibadah dibulan ramadhan.
Jangan sampai kita menjadi pribadi – pribadi yang merugi dengan tidak mampu memanfaatkan momentum ramadhan ini sebaik – baiknya. Karena tidak ada perubahan yang dirasakan selepas kita dari bulan ramadhan. Atau dengan kata lain kualitas diri dan kualitas serta kuantitas ibadah kita tidak mengalami perubahan setelah melewati bulan ramadhan.  Atau bahkan jangan sampai kita menjadi orang – orang yang celaka karena kita menjadi pribadi yang lebih buruk setelah menjalani ibadah puasa dibulan ramadhan. Karena ibadah kita terus merosot setelah bulan ramadhan, na’udzubillah min dzalik.
Semoga kita dapat menjalani ibadah puasa dibulan ramadhan ini dengan sebaik – baiknya dan mampu mengukir prestasi terbaik dibulan ini. Karena belum tentu kita akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu lagi dengan bulan ramadhan ditahun depan. Lebih dari itu semoga kita dapay memanfaatkan ramadhan sebagai sebuah momentum sebagai sebuah “bengkel” untuk memperbaiki diri kita.sehingga ketika kita telah melewati bulan ramadhan dan bertemu dengan idul fitri, kita benar – benar menjadi pribadi yang bersih kembali pada fitrahnya dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menjadi pribadi yang bertakwa, menjadi pribadi yang mampu bersyukur dan mampu menjadi pribadi yang selalu berada dalam kebenaran. Amin ya Robbal A’lamin  

Saturday, 7 July 2012

Adakah Batasan Taat kepada Pemimpin?


Keta’atan kepada ulil amri atau qiyadah dalam konteks kejama’ahan menjda salah satu unsur penting dalam gerakan jama’ah tersebut. Karena hal tersebut akan menentukkan sejauh mana para jundi mau ikut dan mengikuti setiap keputusan yang telah dibuat dan diputuskan oleh para pemimpin. Betapa pentingnya sebuah ketaatan sehingga ada sebuah prinsip yang mengatakan "Tidak ada Islam tanpa berjamaah, sementara tidak ada jamaah tanpa ada kepemimpinan, dan tidak ada kepimpinan tanpa ketaatan." Prinsip atau ungkapan ini menggambarkan bahwa dasar dari penggerak islam adalah ketaatan. Sejauh mana umat islam taat terhadap syariat –syariat silam, sejauh mana ketaatan umat islam terhadap perintah – perintah Rasul serta sejauh mana umat islam taat kepada perintah pemimpin umat islam itu sendiri.
Jika umat islam tidak memiliki ketaatan maka tidak akan muncul sebuah kepemimpinan, dan tidak ada persatuan dalam barisan jamaah sehingga jika tidak adanya persatuan dalam bentuk jamaah maka islam akan sangat mudah dihancurkan oleh musuh – musuh islam. Oleh karena itulah saat ini musuh – mush islam tersebut tengah berusaha bagaimana ketaatan yang dimiliki oleh umat islam ini bisa hilang sehingga mereka dengan mudah dapat mengahancurkan islam.
Oleh karena ketaatan ini merupakan salah satu hal penting yang harus dimiliki oelh seorang muslim, maka Imam Syahid Hasan Al Banna menjadikannya salah satu dari 10 (sepuluh) rukun bai’at jama’ah ikhwanul muslimin. Karena jika seorang yang bergabung dalam sebuah barisan jama’ah tidak memiliki ketaatan, maka hal itu akan menyulitkan jama’ah itu untuk mencapai target – target dakwahnya dikarenakan orang – orang yang ada didalamnya hanya mau mengerjakan hal – hal yang mudah, atau hanya mau bekerja mengikuti perintah dikondisi – kondisi tertentu saja.
Seperti yang telah disampaikan oleh  imam syahid Hasan Al Bana mengenai definisi dari ta’at itu sendiri.  Ketaatan adalah melaksanakan perintah dan merealisir dengan serta merta,baik dalam keadaan sulit maupun mudah,saat bersemangat maupun malas. Dari pebgertian diatas dapat kita simpulkan bahwa ketaatan adalah sebuah bentuk pelaksanaan terhadap perintah yang diberikan disegala kondisi. Ketika ada orang yang mengerjakan perintah hanya pada keadaan yang mudah dan pada saat bersemangat saja tetap ketika dalam keadaan sulit ia enggan melaksanakan perintah maka hal tersebut tidak bisa dikatakan ta’at.
Keta’atan yang disebutkan diatas ditujukkan kepada Allah swt, Rasul dan Waliyul amr, seperti yang tertuang dalam Al-qur’an surat an nisa ayat 59:
  
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An nisa : 59)
Dalam ayat diatas, kita (orang – orang yang beriman) diperintahkan oleh Allah swt untuk ta’at kepada Allah swt, ta’at kepada Rasul dan juga ulil amri. Sehingga ayat ini menjadi landasan syar’i tentang keta’atan seseorang kepada orang lain (ulil amri).
keta’atan kepada Allah swt dan Rasulullah saw bersifat wajib. Tidak ada perdebatan dalam menta’ati Allah swt dan Rasul. Lantas bagaimana dengan keta’atan terhadap makhluk (ulil amri) terlebih dalam konteks kejama’ahan?
Inilah yang menjadi pembedanya. Jika keta’atan kepada Allah swt dan Rasul tidak ada batasan. Apa yang diperintahkan oleh Allah swt dan yang diperintahkan oleh Rasulullah saw, sebagai orang – orang yang beriman wajib untuk menta’atinya atau melaksanakan baik dalam keadaan mudah maupun sulit, baik dalam kondisi semangat ataupun malas. Untuk keta’atan terhadap ulil amri, ada batasan yang diberikan terhadahal ini, batasan tersebut ialah :
1.      Siapa yang memberi Perintah
Dalam ayat diatas (An Nisa ayat 59 ) terdapat kata “wa ulil amri minkum”  atau jika diterjemahkan “...dan ulil amri diantara kamu..” dan ayat ini dibuka dengan kalimat “hai orang – orang yang beriman...”  maka Allah swt dalam ayat ini telah memberikan batasan siapa saja yang boleh dita’ati selain Allah swt dan Rasul, yaitu kepada orang – orang yang beriman. kata – kata ini menjadi penegasan selain kepada Allah swt dan Rasul, kepada siapa keta’atan itu boleh diberikan. Sehingga jika perintah itu datang dari ulil amri yang merupakan orang beriman maka kita harus mengikuti perintahnya tersebut. Sedangkan jika yang menjadi ulil amri adalah orang yang tidak beriman maka kita tidak wajib untuk mengikuti perintahnya tersebut.
Hal ini juga menjadi pedoman bagi setiap muslim jika ingin memilih seorang yang akan dijadikan ulil amri. Kriteria keimanan haruslah menjadi pertimbangan serius, mengingat kita hanya diperntahkan untuk mengikuti dan ta’at kepada perintah seorang ulil amri yang beriman kepada Allah swt.
2.      Content atau isi dari perintah
Dalam hadist Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan muslim :
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu)
Hadist diatas memberikan garis batas yang jelas tentang sejauh mana keta’atan yang boleh kita berikan kepada makhluk (manusia/ulil amri). Kita tidak boleh memberikan keta’atan kita untuk hal – hal maksiat kepada Allah swt karena keta’atan itu diberikan kepada manusia hanya untuk hal – hal kebaikan. Sehingga ketika ada ulil amri yang memerintahkan untuk melakukan sesuatu yang melanggar syariat, maka kita wajib menolaknya dan kita juga berkewajiban untuk mengingatkan ulil amri tersebut akan kesalahannya dalam memberikan perintah. Tetapi ketika perintah itu tidak melanggar syariat maka kita selaku jundi wajib mengikuti perintah tersebut dalam kondisi apapun.
Jadi dapat disimpulkan bahw:
1.      Keta’atan kepada Allah swt dan Rasulullah saw bersifat mutlak.
2.      Keta’atan terhadap makhluk (ulil amri) tidak bersifat mutlak, ada batasan – batasan yang diberikan. Batasan – batasan tersebut ialah: yang pertama, siapa yang memberikan perintah, kita hanya boleh memberikan keta’atan kita kepada orang – orang yang telah terbukti keimanannya, karena itu dalam mengangkat seorang ulil amri faktor keimanan menjadi hal yang harus diperhatikan. Kita tdak wajib dan tidak boleh memberikan keta’atan kepada orang – orang yang tidak beriman. Yang kedua, isi perintah yang diberikan, kita tidak boleh ta’at dan melaksanakan perintah yang melanggar syariat. 
3. jadi jika perintah itu berasal dari pemimpin atau ulil amri yang sudah terbukti keimanannya dan perintahnya tidak beretentanag dengan syariat islam maka bagi para jundi wajib untuk mengikuti dan taat terhadap perintah tersebut. 


Saturday, 30 June 2012

Cerita Kami

duhai siang...
ceritakanlah kepada mereka
tentang kerja - kerja yang kami lakukan
tentang setiap tetesan peluh yang mengalir dari tubuh kami
tentang setiap kelelahan yang mendera diri kami

duhai siang...
beritahukan mereka bahwa...
kerja - kerja kami belum usai
masih banyak peluh yang akan menetes dari tubuh kami
kelelahan akan tetap mendera dirikami

duhai siang...
kabarkan kepada mereka bahwa
kerja - kerja kami akan usai
tetesan peluh kami akan berhenti
kelelahan akan menghilang dari kami

ketika... cita telah menyata nyata
ketika... harapan menjadi realita
ketika...agama ini mendapatkan kemulianya
karena itulah cita - cita kami
karena itulah harapan kami

atau ketika...
perjalanan ini menemui akhirnya
atau ketika...
tubuh ini bagai onggokkan tak berdaya
yang diusung oleh orang - orang lain

karena saat itulah...
kami telah memenuhi janji Tuhan kami
syahid dijalanNya...

Friday, 29 June 2012

Metode dalam Dakwah


Dakwah secara umum dapat diartikan sebagai seruan atau ajakan kepada manusia untuk kembali kejalan Allah swt dengan hikmah dan nasehat yang baik. Itulah makna dakwah yang umum dipahami oleh para penyeru dakwah dimanapun mereka berada. Dari pengertian diatas dapat ditarik beberapa poin penting. Pertama objek dakwah adalah manusia.  Kedua tujuan dari dakwah adalah untuk kembali kejalan Allah, agar para manusia yang menjadi objek dakwah mengingkari taghut dan beriman kepada Allah swt semata. Yang terakhir adalah metode atau cara dakwah yang dilakukan secara garis besar dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu melalui hikmah yang diberikan oleh para penyeru dakwah kepada objek dakwah dan yang kedua adalah melalui nasehat (perkataan) yang baik dari penyeru dakwah.
Seorang penyeru dakwah haruslah benar – benar memahami siapa objek dakwahnya, jelas tujuannya, dan benar dalam penerapan metode atau cara berdakwah yang dijalankan oleh para aktivis dakwah. Ketika salah satu dari tiga hal diatas tidak dipahami dengan baik oleh para penyeru dakwah, maka dapat menyebabkan kegagalan dari program – program dakwah yang dijalankan oleh seorang aktivis dakwah.
 Jangan sampai aktivis dakwah tidak memahami siapa objek dakwahnya karena hal tersebut akan menyulitkan para aktivis dakwah untuk membuat program - program dakwah dikarenakan para aktivis dakwah tidak kenal dan memahami  siapa objek dakwahnya. Dakwah ini dibebankan kepada manusia dan ditujukan kepada manusia bukan ciptaan Allah swt yang lain.
Atau seorang aktivis dakwah harus tau dengan jelas apa tujuan dari dakwah yang dilakukan. Jangan sampai mengalami disorientasi tujuan dalam dakwah yang dilakukan.karena parameter keberhasilan dari dakwah adalah sejauh mana para aktivis dakwah mampu mengajak manusia untuk beriman kepada Allah swt. Dakwah yang kita jalani bukanlah menyeru kepada si aktivis dakwah sehingga para objek dakwah harus tunduk dan menyembah si aktivis dakwah tersebut. Dakwah yang dilakukan bukan menyeru kepada salah satu jamaah atau golongan sehingga menimbulkan ashobiyah diantara aktivis dakwah yang akhirnya menyebabkan perpecahan dalam tubuh umat islam.
Yang terakhir ketika kita telah memahami seperti apa objek dakwah kita dan benar dalam tujuan dakwah yang dilakukan maka seorang aktivis dakwah harus melakukan dengan benar metode dakwah yang dijalaninya. Kesalahan dalam metode dapat membuat dakwah ini tertolak bukan karena ajarannya karena ajaran islam yang dibawa para aktivis dakwah adalah ajaran yang paling benar dan syariat islam merupakan solusi atas permasalahan umat. Tetapi sering kali dakwah ini tertolak karena kesalahan para aktivis dakwah dalam menyampaikan dakwahnya (ajaran islam) sehingga objek dakwah memiliki pandangan yang salah terhadap islam.
Bicara tentang metode atau cara dalam berdakwah, ada baiknya kita menyimak sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim:
Abu Sa’id Al-Khudriy mengatakan, saya mendengar Rasulullah bersabda: Siapa saja yang melihat munkar seyogianya ia merubah dengan tangannya. Jika tidak mampu merubah dengan tangan ia merubahnya dengan lisannya. Jjika juga tidak mampu maka ia merubahnya dengan hati. Merubah munkar dengan hati adalah wujud iman yang paling lemah. (Hadits Riwayat Muslim).
Dakwah merupakan proses perbaikan (islah) yang dilakukan secara terus – menerus. Dari hadist diatas, kita mengetahui bahwa untuk merubah sebuah kemungkaran maka ia harus mampu merubahnya melalui tiga cara yaitu, dengan tangannya,denganlisannya dan dengan hati yang merupakan selemah – lemahnya iman. Jadi, bisa disimpulkan bahwa dalam dakwah kita dapat melakukannya dengan tangan (tindakan/perbuatan), dengan lisan dan dengan hati. Ketiga cara inilah yang dapat dilakukan oleh para aktivis dakwah dalammelakukan aktivitas dakwah yang dijalaninya.
1.      Metode yang pertama adalah dengan tindakan atau perbuatan.
Tujuan dari Allah swt adalah mengajak manusia kejalan Allah swt. Tujuan yang mulia ini akan bisa tersampaikan dengan baik kepada objek dakwah seandainya para penyeru dakwah atau aktivis dakwah itu sendiri telah berada dijalan Allah tersebut. Yang dimaksud melalui tindakan dalam berdakwah adalah diharapkan para aktivis dakwah mampu memberikan teladan bagi objek dakwahnya.
Yang dimaksud dengan teladan disini adalah para aktivis dakwah dapat mengimplementasikan dari setiap seruannya kepada objek dakwah. Allah swt sangat menaruh perhatian besar terhadap hal ini seperti yang ada dalam Al Qur’an surat As Shaff ayat 3 :
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS As Shaff :3)
Ayat diatas menegaskan kepada seluruh aktivis dakwah bahwa yang pertama harus didakwahi adalah dirinya sendiri. Yang pertama sekali harus diperbaiki adalah dirinya sendiri. Setelah itu barulah ia harus mengambil peran dalam perbaikan umat. Karena sudah menjadi kepastian bahwa dampak dari melakukan dakwah itu adalah yang utama kepada si aktivis dakwah itu sendiri. Dakwah yang dibawanya harus bisa menjadikan dirinya pribadi yang lebih baik. Banyak sudah terjadi dimasyarakat, dakwah ini tertolak bukan karena ajaran islam yang dibawa oleh aktivis dakwah tetapi karena keseharian dari si aktivis dakwah tersebut tidak mencerminkan ajaran islam yang didakwahkannya kepada masyarakat.
Keteladanan menjadi bagian yang penting dalam dakwah karena sifat alamiah dari manusia itu sendiri yang amat sangat mudah untuk meniru. Manusia akan lebih mudah untuk belajar jika ada contoh nyata yang ada disekitarnya.Keteladanan diharapkan ada pada setiap aktivis dakwah, karena keteladanan adalah metode dakwah yang sangat efektif. Ada sebuah ungkapan bahwa “sebuah keteladanan lebih berarti daripada seribu kata – kata”.
 Selain itu ketika seorang aktivis telah menjadi teladan ditengah – tengah komunitasnya maka yakinlah ucapan yang keluar dari mulut aktivis dakwah tersebut akan sangat mudah untuk diikuti oleh objek dakwahnya. Karena keteladanan yang ada pada diri aktivis dakwah tersebut telah masuk kedalam alam bawah sadarnya dan akan membuatnya dengan mudah untuk dapat menerima apa yang dikatakan oleh aktivis dakwah tersebut.  
2.      Metode yang kedua melalui Lisan
 Dari makna dakwah yang telah disebutkan diatas metode dakwah, yaitu hikmah dan dengan nasehat yang baik. Dalam Al Qur’an surat An Nahl ayat 125, Allah mengajarkan manusia bagaimana cara dakwah yang seharusnya dilakukan :
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(Q.S An Nahl:125)
Dalam ayat diatas Allah mengajarkan kepada Rasul dan umat islam tentang bagaimana caranya menyeru manusia kepada Allah swt. Kita diperintahkan Allah swt untuk berdakwah dengan hikmah dan nasehat yang baik. Jumhur mufasir menafsirkan kata hikmah dengan hujjah atau dalil. Dari ungkapan para mufasir dapat dimengerti, bahwa hujjah yang dimaksud adalah hujjah yang bersifat rasional (‘aqliyyah/fikriyyah), yakni hujjah yang tertuju pada akal. Hikmah dapat diartikan dengan argumentasi yang masuk akal, yang tidak dapat dibantah, dan yang memuaskan. Yang dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan siapa saja. Sebab, manusia tidak dapat menutupi akalnya di hadapan argumentasi-argumentasi yang pasti serta pemikiran yang kuat. Argumentasi logis mampu membongkar rekayasa kebatilan, menerangi wajah kebenaran, dan menjadi api yang mampu membakar kebobrokan sekaligus menjadi cahaya yang dapat menyinari kebenaran.
Yang kedua adalah mau’izhah hasanah (nasihat/peringatan yang baik) yang secara global secara global, yaitu nasihat atau peringatan al-Quran (mau’izhah al-Qur’an). Sayyid Quthub menafsirkan mau’izhah hasanah sebagai nasihat yang masuk ke dalam hati dengan lembut (tadkhulu  il­â al-qulûb bi rifq). Ada dua karakter dari mau’izhah hasanah  yaitu Pertama, menggunakan ungkapan yang tertuju pada akal dan yang kedua , menggunakan ungkapan yang tertuju pada hati/perasaan.
3.      Metode dakwah yang ketiga adalah dengan hati
Dakwah dengan hati adalah bagaimana kita harus menimbulkan penolakan di hati kita terhadap  hal – hal yang bertentangan dengan syariat islam. Selain itu dakwah dengan hati adalah bagaimana kita harus mendoakan objek – objek dakwah kita agar Allah swt memberikan hidayah kepadanya. Karena yang perlu kita sadari adalah masuknya hidayah kepada seseorang itu murni hak prerogratif Allah swt. Dan dia berhak memberikan kepada siapa saja yang diinginkan oleh Allah swt. Hal inilah yang mungkin sering kita lupakan dalam mengerjakan kerja – kerja dakwah. Selain itu, mendo’akan objek dakwah juga dilakukan oleh Rasul.

Wednesday, 27 June 2012

KEGAGALAN MENGAJARKAN KITA BERSABAR DALAM PROSES


Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa tidak ada didunia ini yang tidak pernah merasakan kegagalan dalam hidupnya. Selama orang tersebut pernag merencanakan sesuatu, melaksanakan rencananya, maka saya berani mengatakan orang itu akan pernah merasakan kegagalan. Namun tapi seberapa besar tingkat kegagalan yang dialami oleh sesorang mungkin berbeda – beda. Ada orang yang gagal dalam tahap perencanaan, ada juga yang mengalami kegagalan dalam proses  usahanya karena kondisi – kondisi yang lupa ia perhitungkan atau ada juga yang gagal karena kondisi yang diluar dugaan.
Ketiga hal tersebut harus dicermati oleh siapa saja yang ingin atau sedang meniti tangga kesuksesan dalam hidupnya. Yang pertama adalah gagal dalam merencanakan, hak ini adalah kegagalan paling buruk yang dilakukan oleh seseorang. Karena perencanaan adalah awal dari setiap hal yang akan dilakukan. Gagal dalam merencankan sama saja dengan merencanakan kegagalan.
Yang kedua adalah kegagalan yang disebabkan karena kondisi – kondisi yang lupa ia perhitungkan. Proses telah berjalan, namun ditengah perjalanan menuju kesuksesan muncul masalah – masalah yang menyebabkan kehancuran dan kegagalan dari “bangunan” usaha yang telah ia lakukan. Untuk tipe yang satu ini maka ia harus benar – benar memusatkan perhatiannya ketika berada dalam fase perencanaan. Karena dalam fase perencanaan kita harus benar – benar matang dan memiliki orientasi terhadap tujuan apa yang akan dicapai. Berfikir secara komprehensif terhadap kemungkinan apa yang akan dihadapi. Atau yang sering kita sebut dengan “think globally”.
Yah,kita harus berfikir secara global terhadap kemungkinan masalah yang akan kita hadapi. Sehingga kita benar – benar siap ketika masalah tersebut muncul. Namun hal ini jangan menjadikan kita sebagai orang – orang paranoid yang terlalu takut untuk melakukan sesuatu. Karena kesuksesan dan keberhasilan adalah “buah” dari sebuah usaha dan perjuangan. Ketika kita gagal ditengah jalan karena lupa maka dipercobaan selanjutnya akan menjadikan kita orang yang berkali – kali lebih waspada ketimbang sebelumnya.
Contohnya ketika sesorang yang sedang mengendarai motor dengan kecepatan yang cukup tinggi. Samapi akhirnya disuatu tempat ia tiba pada kondisi jalan yang rusak sehingga ia harus terjatuh dari motornya dan menderita luka dibeberapa bagian tubuhnya. Beberapa waktu kemudian ketika dia sudah sembuh dari luka –lukanya dan mengendarai motor lagi, maka ia akan lebih berhati – hati dalam mengendarai motornya terutama ketika melewati jalan dimana ia terjatuh.  Tapi coba bayangkan jika sipengendara motor tadi berhenti mengendarai motor dan tak mau lagi mengendarai motor setelah terjatuh dari motor, apakah hal itu membuat dia lebih waspada? Tidak karena hal tersebut bukanlah waspada tapi TAKUT.
Kita perlu cermat dalam membedakan antara waspada atau berhati – hati dengan  ketakutan. Karena sifat kehati – hatian seseorang tidak akan menghalanginya dalam mencoba kembali sesuatu yang telah dilakukannya, namun hasilnya belum maksimal. Sedang ketakutan akan memaksa kita tidak melakukan hal yang pernah gagal ia lakukan.
Yang selanjutanya adalah orang yang gagal dalam melakukan sesuatu karena hal – hal yang memang diluar dugaan atau diluar perkiraan dan memang penyebab kegagalan ini adalah sesuatu yang tidak wajar dan jumlah kasusnya sangat sedikit sekali ditemukan. Maka untuk hal seperti ini saya mengatakan bahwa anda sedang dalam proses menuju kesuksesan. Jangan menyerah,lakukan lagi apa yang ingin anda capai karena anda tinggal selangkah lagi menuju apa yang anda ingin capai.
Ada sebuah cerita seorang sarjana “fresh graduated”,sama seperti kebanyakan sarjana – sarjana lainnya ia melakukan proses pencarian kerja. Ia mencoba melamar pekerjaan keberbagai tempat yang sesuai dengan bidang keilmuan ynag ia ambil dibangku universitas. Berbagai perusahaan telah menerima surat “cinta” si pemuda ini yaitu surat lamaran kerja. Namun dari begitu banyak surat lamaran yang telah dikirimkannya, tak ada satupun yang berhasil. Dan ia pun mengumpulkan surat – surat penolakan dari tempat dimana ia memasukkan lamaran pekerjaan.
Tak terasa sudah surat penolakan ke 95 yang ia kumpulkan. Tetapi ia tetap mencoba mencari pekerjaan dengan memasukkan lamaran keberbagai tempat. Sampai akhirnya ia mendapatkan tawaran pekerjaan di surat lamaran ke 102. Tetapi yang ia lakukan adalah menolak pekerjaan yang telah didapatkannya itu. Dan ia mengulang lagi mengirimkan surat lamaran ketempat – tempat yang menolaknya sebelumnya dan menakjubkannya ia diterima hampir disetiap tempat dia mengajukkan lamaran.
Sebuah pelajaran sederhana dari cerita diatas tentang bagaimana keberhasilan itu butuh proses. Dan orang – orang yang sabar dalam menjalankan proses itulah yang akan mendapatkan kesuksesannya. Bisa dibanyangkan jika si pemuda tadi tidak sabar dalam berproses dan ia berhenti pada percobaan ke 99. Apakah ia akan mendapatkan pekerjaan? Tentu saja tidak karena dia telah berhenti dan tak mau mencoba lagi.
Jadi jika gagal dalam proses mencapai tujuan yang kita inginkan maka bersabarlah karena keberhasilan itu butuh proses. Dan proses itu harus dijalani dengan kesabaran. Karena hanya orang – orang yang sabar dalam menjalani proses yang akan mendapatkan kesuksesan.

Wednesday, 20 June 2012

Optimisme Kunci Mengatasi Kegagalan

Idealisme memiliki hubungan yang sangat yangat erat dengan hal – hal yang tidak realistis, tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Sedangkan sikap realisme yang amat berlebihan akan menyebabkan munculnya sikap pragmatis. Adalah sebuah hal yang tidak terlalu baik ketika kita hidup dalam dunia idealisme sempit tanpa mau perduli dengan kenyataan disekitar kita yang sanga jauh dari kata “ideal”. Akan tetapi sikap realisme yang berlebihan akan melahirkan generasi – genarasi yang pragmatis, yang akhirnya akan melahirka generasi – generasi yang berfikiran sempit. Maka diantara idealisme yang sangat jauh dari realistis dan realisme yang terlalu pragmatis terdapat titik tengah yaitu “optimisme”. Optimisme lah yang akan menjadi penghubung antara hal – hal ideal yang ada dibenak kita dengan realita dan kondisi yang ada dilapangan.
Sikap optimis inilah yang mampu melahirkan kekuatan untuk mengubah realita menjadi idealita. Ataupun sebaliknya,Optimisme lah yang akan melahirkan kekuatan untuk mengubah mimpi menjadi kenyataan. Oleh karena itulah sikap optimis merukpakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin mencapai kesuksesan. Sikap optimis harus dapat ditimbulkan dalam setiap kondisi realita yang ada. Tidak hanya timbul pada kondisi yang sesuai dengan apa yang menjadi keinginan kita. Ketika realita yang ada tidak sesuai dengan idealita yang terpikirkan oleh kita, maka kita juga harus mampu menimbulkan sikap optimis dalam diri kita.
Rasul telah memberikan contoh yang begitu luar biasa bagaimana ketika kita mampu membangun sikap optimis bahkan dalam keadaan yang sesulit apapun, maka kemenangan dan keberhasilan akan diberikan oleh Allah swt. Salah satu contohnya ada pada perang khandaq, perang yang terjadi pada tahun kelima hijriah dan juga disebut dengan pernag ahzab ini telah menunjukkan dengan gamblang bagaimana sikap optimisme dari Rasul, bahkan dalam kondisi sulit sekalipun.
Ketika pada perang ahzab/khandaq suasana yang tercipta adalah suasana yang amat sangat mencekam lantaran rasa lapar yang mendera kaum muslimin serta ditambah dengan pengepungan yang dilakukan oleh pasukan kafir. Ketika beliau menggali parit bersama para sahabat, terdapat bongkahan batu yang amat besar sehingga beliau menyerahkannya kepada Rasulullah SAW. Beliau pun memecahkan batu tersebut dengan palu godamnya. Pukulan Rasulullah memercikkan api dan waktu itu beliau mengucapkan subhanallah serta kejadian tersebut berulang sebanyak tiga kali.
Kemudian Rasulullah menceritakan bahwa ketika muncul percikan api terpancar gambaran istana persia disusul dengan istana Romawi dan selanjutnya istana Mauqaqis. Rasul mengatakan istana Persia akan menjadi milik kita,istana romawi akan kita taklukkan dan istana mauqaqis akan kita miliki, pernyataan Rasul disambut gembira oleh para sahabat.
Dapat kita lihat dari sirah perang ahzab atau perang khandaq tersebut bagaimana dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, dalam keadaan yang sangat sulit dan dalam keadaan kelaparan serta kepungan dari pasukan kafir, Rasul masih memiliki sikap optimis yang luar biasa besarnya. Beliau dengat sangat yakin mengatakan kepada sahabat – sahabatnya bahwa kaum muslimin akan mampu merebut istana persia,romawi dan mauqaqis. Dimana ketiganya merupakan milik kerajaan – kerajaan besar pada zamannya.
Sikap optimis ini tidak muncul pada kondisi yang baik. Bukan ketika kaum muslimin memiliki persediaan makanan yang cukup untuk berperang. Bukan pada kondisi memiliki pasukan yang sangat banyak untuk memenangi perang dan juga bukan pada kondisi dimana memiliki persenjataan yang lengkap. Tetapi sejarah telah mencatat bahwa kaum muslimin telah mampu menguasai ketiga istana yang disebutkan oleh Rasul ketika prang khandaq. Sungguh luar biiasa bagaimana sikap optimisme yang diperlihatkan Rasul telah mampu membangkitkan semangat serta kekuatan yang luar biasa yang ada pada diri sahabat sehingga mereka mampu memenangi peperangan, meraka mampu membalikkan keadaan.
Sikap optimis inilah yang seharusnya sekarang dimiliki oleh pemuda – pemuda islam, optimis bahwasanya islam akan kembali merengkuh kejayaannya. Walaupun kondisi umat saat ini sedang terpuruk, dalam kondisi yang berantakan tapi kita harus memiliki sifat optimis bahwa kita mampu memberikan perubahan pada umat ini kepada arah yang lebih baik. Sangat indah ungkapan imam syahid Hasan Al Bana “Antum ruhun jadidah tarsi fi ja-sadil ummah”. Kamu adalah ruh baru, kamu adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh ummat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al-Qur’an.
Sehingga ketika kita bisa memasukkan nilai – nilai optimisme serta mampu mengejawantahkan kedalam sikap kita dalam aktivitas dakwah, maka kita telah memenuhi salah satu syarat “pahlawan” seperti yang ditulis oleh Ustd Anis Matta Lc, dalam bukunya “Mencari Pahlawan Indonesia”. Beliau menuliskan bahwasanya para pahlawan adalah orang – orang yang memiliki sikap optimis yang menjadi penghubung antara idealisme yang jauh dari realita dan realisme yang sangat dekat dengan pragmatis. Karena para pahlawan adalah orang – orang yang menyadari betapa besar misi yang diembankan kepadanya, dan misi tersebut takkkan berhasil tanpa didasari oleh sikap optimis.
Terakhir, sesungguhnya potensi yang dimiliki diri seseorang amatlah besar. Tetapi sayangnya banyak diantara kita yang tdak menyadari betapa besarnya potensi yang diberikan oleh Allah swt kepada kita. Ternyata kitalah yang membatasi potesi yang diberikan oleh Allah swt dengan sikap pesimis dan su’udzhan kepada Allah swt.